Kamis, 08 Oktober 2015

INTERNAL CONTROL

Mohammad Fadly Assagaf (C30215002)
Magister Akuntansi
Universitas Tadulako
2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Konsep Internal Control telah bergulir sejak tahun 1930-an. Untuk pertama kali, George E. Bennet menyebutkan definisi Internal Control. Namun istilah tersebut baru dinyatakan secara institutional oleh AICPA pada tahun 1949 melalui laporan khusus yang berjudul “Pengendalian Internal – Elemen-elemen Sistem yang Terkoordinasi dan Pentingnya Pengendalian bagi Manajemen dan Akuntan Independen”. Selanjutnya konsep tersebut berkembang pesat dengan yang kita kenal 8 (delapan) unsur Pengendalian Internal.
Perkembangan berikutnya, pada awal tahun 80-an konsep tersebut dinilai banyak pihak sudah tidak aplicabel lagi. Semakin kompleksnya. Dunia bisnis dan teknologi membuat konsep pengendalian internal tersebut tidak efektif dalam mendorong tercapainya tujuan perusahaan. Semakin banyak keluhan dari perusahaan dan institusi yang telah menerapkan konsep internal control sebagaimana dikembangkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA), namun masih mengalami kegagalan.
Pada tahun 1992, The Commitee of Sponsoring Organization of The Treadway Commission (COSO) menerbitkan laporan yang berjudul “Internal Control-Integrated Framework”. Laporan COSO tersebut memberikan suatu pandangan baru tentang konsep Internal Control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan .Jika pada konsep sebelumnya hanya menekankan pada proses penyusunan laporan keuangan saja, maka konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi. Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak.
Di Indonesia, perkembangan menarik terjadi dengan terbitnya Undang-undang nomor 1 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2006. Pada ketentuan tersebut, ditetapkan bahwa setiap instansi pemerintah harus mengembangkan Sistem Pengendalian Intern. Penjelasan dan ketentuan lain yang menjabarkan menyebutkan bahwa Sistem Pengendalian Intern terdiri dari 5 komponen yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta monitoring. Hal ini mengandung arti bahwa konsep Internal Control versi COSO diterapkan pada sektor pemerintahan di Indonesia. Sebuah langkah maju dan berani serta menjadi tantangan yang tidak mudah bagi para auditor internal pemerintah. Tulisan ini akan membahas secara umum konsep tersebut.
Dalam teori akuntansi dan organisasi, Internal Control atau pengendalian intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang).
Adanya sistem akuntansi yang memadai, menjadikan akuntan perusahaan dapat menyediakan informasi keuangan bagi setiap tingkatan manajemen, para pemilik atau pemegang saham, kreditur dan para pemakai laporan keuangan (stakeholder) lain yang dijadikan dasar pengambilan keputusan ekonomi. Sistem tersebut dapat digunakan oleh manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan operasi perusahaan. Lebih rinci lagi, kebijakan dan prosedur yang digunakan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai sasaran dan menjamin atau menyediakan laporan keuangan yang tepat serta menjamin ditaatinya atau dipatuhinya hukum dan peraturan, hal ini disebut Pengendalian Intern, atau dengan kata lain bahwa pengendalian intern terdiri atas kebijakan dan prosedur yang digunakan dalam operasi perusahaan untuk menyediakan informasi keuangan yang handal serta menjamin dipatuhinya hukum dan peraturan yang berlaku.
1.2         Rumusan Masalah
1.2.1        Apakah pengertian dari internal control?
1.2.2        Apa tujuan dari Internal Control ?
1.2.3        Apa unsur dan elemen dari Internal control?
1.2.4        Bagaimana peran Internal control dalam system informasi akuntansi?
1.3         Tujuan
1.3.1        Mengetahui pengertian dari internal control.
1.3.2        Mengetahui tujuan dari Internal control.
1.3.3        Mengetahui unsur dan elemen dari Internal control.
1.3.4        Mengetahui peran Internal control dalam system informasi akuntansi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Definisi Internal Control
Pada tahun 1949, AICPA mendefinisikan Internal Control sebagai rencana organisasi dan semua metode yang terkoordinasi dan pengukuran-pengukuran yang diterapkan di perusahaan untuk mengamankan aktiva, meyakini keandalan dan akurasi data akuntansi, meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditetapkan. Definisi ini diinteprestasikan oleh banyak pihak terdiri atas dua kelompok yaitu pengendalian administatif dan pengendalian akuntansi. Pengendalian administratif yang berhubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan sedangkan pengendalian akuntansi terkait dengan penyajian laporan keuangan.
Perluasan atas definisi internal control dilakukan oleh AICPA berlaku mulai 1 Januari 1997. Redefinisi ini dipengaruhi oleh Laporan COSO sebagaimana disebutkan sebelumnya (1992). Laporan COSO menyatakan definisi Internal Control sebagai berikut :
“Internal control is broadly defined as a process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories :
a)         Effectiveness and efficiency of operations.
b)         Reliability of financial reporting.
c)         Compliance with applicable laws and regulations.
Melalui Statement of Auditing Standar (SAS), AICPA mendefinisikan Internal Control sama dengan definisi COSO, yaitu suatu proses yang dipengaruhi oleh aktivitas Dewan Komisaris, Manajemen dan Pegawai, yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang wajar atas (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan (c) ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Berbeda dengan definisi pertama yang hanya mengaitkan pengendalian hanya dengan perencanaan, metode dan pengukuran, pada definisi berikutnya terkait dengan “proses yang dipengaruhi oleh aktivitas seluruh komponen organisasi”. Definisi ini mengandung makna yang lebih luas dari definisi sebelumnya.
Sesuai dengan definisi Internal kontrol menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), komponen-komponen tersebut mencerminkan adanya perubahan pengertian yang cukup signifikan. Internal control bukan hanya meliputi komponen-komponen organisasi yang bersifat statis, tetapi meliputi juga hal-hal yang bersifat dinamis. Tidak hanya terkonsentrasi pada penyusunan laporan keuangan saja, namun meliputi juga pencapaian tujuan organisasi. Tidak hanya memperhatikan tingkatan manajerial dan operasional organisasi, namun juga meliputi tingkatan strategis pada organisasi.
Sedangkan pengendalian intern menurut Mustofa (1995:71) adalah cara-cara untuk mengatasi pengamatan harta kekayaan, memperoleh informasi bagi pimpinan, melancarkan operasional dan dipatuhinya kebijakan-kebijakan perusahaan. Pembentukan suatu sistem tidak terlepas dari adanya suatu sistem pengendalian internal (intern control sistem), karena pengendalian internal harus melekat di dalam sistem itu sendiri. Agar landasan berpikir kita lebih terintegrasi maka perlu juga dituangkan definisi dari pengendalian internal. Pengendalian Internal pertama kali didefinisikan oleh AICPA pada tahun 1949 yang dikutip oleh Yogiyanto (1996:358) adalah meliputi: Struktur suatu organisasi dan semua metode-metode yang terkoordinir serta ukuran-ukuran yang ditetapkan di dalam suatu perusahaan untuk tujuan menjaga ditetapkannya di dalam suatu perusahaan untuk tujuan menjaga keamanan harta kekayaan milik perusahaan, memeriksa ketepatan dan kebenaran data akuntansi, meningkatkan efisiensi operasi kegiatan, dan mendorong ditaatinya kebijaksanaan-kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan. sistem pengendalian intern menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accountantsi) yang dikutip oleh Bambang Hartadi menyebutkan, sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, semua metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinasiyang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan,memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya
Berdasarkan definisi yang telah dikemukan di atas, bahwa suatu perusahaan atau lembaga menginginkan tercapainya tujuan tersebut dan untuk mencapainya diperlukan pengendalian intern. Pengendalian intern merupakan alat untuk meletakkan kepercayaan auditor mengenai bebasnya laporan keuangan dari kemungkinan kesalahan dan kecurangan. Pemerintah berusaha untuk membuat struktur pengendalian intern dengan baik, melaksanakan, dan mengawasinya agar efektivitas perusahaan bisa tercapai, pengendalian intern yang baik akan menjamin ketelitian data akuntansi yang dihasilkan sehingga data tersebut dapat dipercaya.
2.2.   Tujuan Internal Control
Pengendalian intern mempunyai tujuan untuk mendapatkan data tepat dan dapat dipercaya, melindungi harta atau aktiva perusahaan atau lembaga, dan meningkatkan efektivitas dari seluruh anggota perusahaan atau lembaga sehingga perusahaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Pengendalian intern disusun berdasarkan tujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Manajemen merancang sistem pengendalian intern yang efektif dengan empat tujuan pokok berikut ini (Mulyadi, 2001) :
1.         Menjaga harta kekayaan perusahaan
Bila sistem pengendalian intern berjalan dengan baik maka akan dapat mengantisipasi teriadinya kecurangan, pemborosan, ketidakefisienan, dan penyalahgunaan terhadap aktiva perusahaan.
2.         Mengecek keakuratan data akuntansi
Keandalan data/informasi akuntansi digunakan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan ketelitian dan dapat dipercayanya data akuntansi.
3.         Mendorong efisiensi
Kebijakan perusahaan mampu memberikan manfaat tertentu dengan memantau setiap pengorbanan yang telah dikeluarkan guna mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
4.         Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
Suatu hal untuk mencapai tujuan perusahaan maka kebijakan, prosedur, sistem pengendalian intern yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa kebijakan, prosedur yang ditetapkan perusahaan akan dipatuhi oleh seluruh karyawan.
Pada tingkatan organisasi, tujuan pengendalian inteberkaitan dengan keandalan laporan keuangan, umpan balik yang tepat waktu terhadap pencapaian tujuan-tujuan operasional dan strategis, serta kepatuhan pada hukum dan regulasi. Pada tingkatan transaksi spesifik, pengendalian intern merujuk pada aksi yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memastikan pembayaran terhadap pihak ketiga dilakukan terhadap suatu layanan yang benar-benar dilakukan). Prosedur pengedalian intern mengurangi variasi proses dan pada gilirannya memberikan hasil yang lebih dapat diperkirakan.Tujuan pengendalian intern adalah menjamin manajemen perusahaan agar :
•         Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai.
•         Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya.
•         Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
•         Menjamin atau menjaga asset
•         Menjamin ketelitian data
•         Mencapai tingkat efisiensi
•         Mendorong terpenuhinya kebijakan dari pihak manajemen
Menurut tujuannya Mulyadi (2001:163) menyebutkan, Sistem pengendalian internal dapat dibagi menjadi dua macam:
1.      Pengendalian internal akuntansi (accounting control )
Pengendalian internal akuntansi meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran - ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, sehingga dapat menjamin kekayaan organisasi dan menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya.
2.      Pengendalian internal administratif (administrative control)
Pengendalian internal adminitratif meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran - ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen.
Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa pengendalian internal meliputi beberapa hal berikut ini:
1.      Struktur suatu organisasi.
2.      Semua metode - metode dan cara - cara yang terkoordinir.
3.      Ukuran - ukuran yang ditetapkan di dalam suatu perusahaan yang mempunyai tujuan
2.3.    Struktur Internal Control
Suatu informasi akuntansi memberikan informasi kepada orang-orang yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Para pemakai informasi sangat memeprhatikan kualitas informasi yang dilaporkan melalui kertas maupun yang ditayangkan melalui layar komputer (monitor). Suatu organisasi menerapkan kebijakan dan prosedur pengendalian (pengendalian intern) dengan maksud untuk memelihara kualitas informasi dan operasi (rangkaian aktivitas) dalam rangka pencapaian tujuan. Pengendalian intern memiliki lima komponen yang membentuk struktur pengendalian intern. Dari lima komponen tersebut, pengendalian lingkungan menjadi dasar yang memayungi ke-empat pengendalian lainnya
         Ada lima komponen yang saling terkait dalam struktur pengendalian intern adalah sebagai berikut :
1.
Lingkungan pengendalian yang berfungsi untuk menetapkan corak suatu organisasi.
2.
Penaksiran resiko untuk mengidentifikasi entitas dan analisis terhadap resiko yang relevan.
3.
Aktivitas pengendalian yang merupakan kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.
4.
Informasi dan komunikasi untuk pengindentifikasian, penangkapan dan pertukaran informasi.
5.
Pemantauan sebagai proses untuk menetukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.
Uraian diatas menjelaskan bahwa ada lima komponen yang saling terkait dalam struktur pengendalian intern antara lain lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi dan pemantauan. Kelima komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, apabila perusahaan menginginkan struktur pengendalian intern yang mampu mendukung proses pengambilan keputusan.
2.4.    Prinsip - prinsip Internal Control
Prosedur Pengendalian internal berbeda - beda antar organisasi yang satu dengan lainnya, dan bergantung pada beberapa faktor seperti sifat operasi dan besarnya organisasi. Namun demikian prinsip-prinsip pengendalian internal yang pokok dapat diterapkan pada semua organisasi. Untuk dapat mencapai tujuan pengendalian akuntansi, suatu sistem harus memenuhi enam prinsip dasar pengendalian intern yang meliputi :       
·            Pemisahan fungsi. Tujuan utama pemisahan fungsi untuk menghindari dan pengawasan segera atas kesalahan atau ketidakberesan. Adanya pemisahan fungsi untuk dapat mencapai suatu efisiensipelaksanaan tugas.
·    Prosedur pemberian wewenangTujuan prinsip ini adalah untuk menjamin bahwa transaksi telahdiotorisir oleh orang yang berwenang
·        Prosedur dokumentasi. Dokumentasi yang layak penting untuk menciptakan sistempengendalian akuntansi yang efektif. Dokumentasi memberi dasarpenetapan tanggungjawab untuk pelaksanaan dan pencatatanakuntansi.
·         Prosedur dan catatan akuntansiTujuan pengendalian ini adalah agar dapat disiapkannya catatan-catatan akuntansi yang yang teliti secara cepat dan data akuntansidapat dilaporkan kepada pihak yang menggunakan secara tepatwaktu.
·    Pengawasan fisik Berhubungan dengan penggunaan alat-alat mekanis danelektronis dalam pelaksanaan dan pencatatan transaksi.
·        Pemeriksaan intern secara bebas Menyangkut pembandingan antara catatan asset dengan asset yang betul - betul ada, menyelenggarakan rekening - rekening kontrol dan mengadakan perhitungan kembali gaji karyawan. Ini bertujuan untuk mengadakan pengawasan kebenaran data.
Menurut Al Haryono Jusup ( 2005:4), ada tujuh buah prinsip pengendalian internal yang pokok meliputi :
1)      Penetapan Tanggung jawab secara Jelas.
Untuk menciptakan pengendalian internal yang baik, manajemen harus menetapkan tanggung jawab secara jelas dan tiap orang memiliki tanggung jawab untuk tugas yang diberikan kepadanya. Jika perumusan tanggung jawab tidak jelas dan terjadi suatu kesalahan, maka akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
2)      Penyelenggaraan Pencatatan yang Memadai.                                
Untuk melindungi aktiva dan menjamin bahwa semua karyawan melaksanakan prosedur yang ditetapkan, diperlukan pencatatan yang baik. Catatan yang bisa dipercaya akan menjadi sumber informasi yang dpat digunakan manajemen untuk memonitor operasi organisasi. Salah satunya adalah merancang formulir-formulir secara cermat dan sesuai dengan kebutuhan dan menggunakan dengan benar.
3)      Pengasuransian Kekayaan dan Karyawan Organisasi.
Kekayaan organisasi harus diasuransikan dengan jumlah pertanggungan yang memadai, demikian pulah karyawan yang menangani kas dan surat-surat berharga harus dipertanggungkan. Salah satu cara mempertanggungkan karyawan adalah dengan membeli polis asuransi atas kerugian akibat pencurian oleh karyawan.
4)      Pemisahan Pencatatan dan Penyimpanan Aktiva
Prinsip pokok pengendalian internal mensyaratkan bahwa pegawai yang menyimpan / bertanggungjawab atas aktiva tertentu, tidak diperkenankan mengurusi catatan akuntansi aktiva yang bersangkutan.
5)      Pemisahan Tangung Jawab atas Transaksi yang Berkaitan.
Pertanggunjawaban atas transaksi yang berkaitan harus ditetapkan pada orang - orang atau bagian - bagian dalam organisasi sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang akan diperiksa oleh orang lain.
6)      Penggunaan Peralatan Mekanis (Jika Memungkinkan)
Apabila keadaan memungkinkan, sebaiknya organisasi menggunakan peralatan - peralatan mekanis seperti kas register, check protector, mesin pencatat waktu dan peralatan mekanis lainnya.
7)      Pelaksanaan Pemeriksaan secara Independen
Apabila suatu sistem pengendalian internal telah dirancang dengan baik, penyimpangan tetap mungkin terjadi sepanjang waktu. Oleh karena itu perlu pengkajian ulang secara teratur untuk memastikan bahwa prosedur-prosedur telah diikuti dengan benar. Pengkajian ulang ini harus dilakukan oleh pemeriksa internal yang tidak terlibat langsung dalam operasi suatu organsasi. Apabila pemeriksa internal  berkedudukan independen,maka dapat melakukan evaluasi mengenai efisiensi operasi secara menyeluruh dan efektif tidaknya sistem pengendalian internal.
2.5.   Komponen Pengendalian Internal
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission (COSO) memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian intern yang meliputi :
1)         Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pengendalian adalah filosofi manajemen (manajemen tunggal dalam persekutuan atau manajemen bersama dalam perseroan) dan gaya operasi manajemen (manajemen yang progresif atau yang konservatif), struktur organisasi (terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik kepersonaliaan. Lingkungan pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang lain.
Lingkungan pengendalian menciptakan suasana pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang pengendalian. Lingkungan pengendalian merupakan landasan untuk semua unsur pengendalian intern, yang membentuk dan terstruktur. Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas antara lain :
a.       Integritas dan nilai etika
Efektivitas pengendalian intern bersumber dari dalam diri orang yang mendesain dan melaksanakannya. Pengendalian intern yang memadai desainnya, namun dijalankan oleh orang-orang yang tidak menjungjung tinggi integritas dan tidak memiliki etika, akan mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan pengendalian intern. Oleh karena itu, tanggung jawab manajemen adalah menjungjung tinggi nilai integritas .
b.      Komitmen terhadap kompetensi
Untuk mencapai tujuan entitas, personel di setiap tingkat organisasi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlakukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, dan paduan antara kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan kompetensi.
c.       Dewan komisaris dan komite audit
Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas, jika penunjukan auditor dilakukan oleh manajemen puncak, kebebasan auditor akan dapat berkurang dipandang dari sudut pemegang saham. Hal ini karena manajemen puncak adalah pihak yang seharusnya dinilai kejujuran pertanggungjawaban keuangannya oleh auditor, padahal manajemen puncak menentukan pemilihan auditor yang ditugasi dalam audit atas laporan keuangan yang dipakai untuk pertanggungjawaban keuangan oleh manajemen puncak.
Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, dewan komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah konsentrasi pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).
Perusahaan-perusahaan Indonesia yang go public ada yang membentuk komite audit (audit commitee) yang anggotanya seluruh atau terutama terdiri dari pihak luar perusahaan. Pembentukan komite audit ini ditujukan untuk memperkuat independensi auditor yang oleh masyarakat dipercaya untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang dilakukan oleh manajemen.
d.      Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawannya. Filosofi merupakan memeberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan :
1.  Apa yang menjadi alasan perusahaan dalam bisnis?
2.  Bagaimana perusahaan melaksanakan bisnis?
3. Apa yang dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan sebagai bisnis perusahaan?
Dalam berbisnis, manajemen yang  memiliki filosofi akan meletakkan kejujuran sebagai dasr bisnisnya. Laporan keuangan perusahaan ini akan digunakan sebagai alat manajemen untuk mencerminkan kejujuran pertanggungjawaban keuangan perusahaan kepada siapa saja yang berhubungan bisnis dengan mereka. Dengan demikian, filosofi ini menjadi warna unik perusahaan dalam melaksanakan bisnis mereka.
Gaya operasi mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi entitas harus dilaksanakan. Ada manajer yang memilih gaya operasi yang sangat menekankan pentingnya pelaporan keuangan, penyusunan, dan penggunaan anggaran sebagai alat pengukuran kinerja manajer, dan pencapaian tujuan yang telah dicanangkan dalam anggaran; ada manajer yang tidak demikian. Ada manajemen puncak perusahaan yang memilih gaya operasi yang lebih condong pada pemusatan kekuasaan di tangan beberapa gelintir manajer puncak; ada manajer yang memilih gaya operasi yang condong pada desenteralisasi kekuasaan ke tangan manajemen menengah dan bawah. Manajemen dengan gaya operasi sentralisasi memerlukan alat kontrol yang cendurung berbiaya tinggi.
e.       Struktur organisasi
Organisasi dibentuk oleh manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Orang bergabung dalam suatu organisasi dengan maksud utama untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat dicapainya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Struktur memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemantauan aktivitas entitas. Pengembangan struktur organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam tujuan organisasi.
f.       Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab merupakan perluasan lebih lanjut pengembangan struktur organisasi. Dengan pembagian  wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan organisasi. Di samping itu, pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggungjawaban konsumsi sumber daya organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Jika kepada seorang manajer dibebankan wewenang yang terlalu banyak, hal ini akan berakibat timbulnya iklim yang mendorong ketidakberesan dalam pelaksanaan wewenang tersebut.
g.      Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian intern. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian intern yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diandalkan. Pengendalian intern yang baik tidak akan dapat menghasilkan informasi keuangan yang andal jika dilaksanakan oleh karyawan yang tidak kompeten dan tidak jujur.
2)      Penilaian Resiko (Risk Assesment)
Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis (profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang telah di identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan intensitas dan tindakan yang dapat meminimalkannya.
3)      Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur pengendalian meliputi hal - hal sebagai                berikut :
•         Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
•         Pelimpahan tanggung jawab.
•         Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
•         Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
4)      Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan dengan usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan cara mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh sistem akuntansi.
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi perubahan pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai bagian dari audit atas laporan keuangan. Adapun tahapan-tahapan dari proses monitoring adalah sebagai berikut  :
·   Identifikasi masalah
·   Perencanaan
·   Pelaksanaan
·   Monitoring
·   Evaluasi
·   Evaluasi kembali
5)      Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur pengendalian dan monitoring diperlukan oleh manajemen Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan.
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal. Hukum, peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan pelaporan eksternal.
2.6.   Hubungan Antara Pengendalian Internal dan Sistem Informasi Akuntansi
Salah satu fungsi utama Internal control dalam suatu perusahaan adalah melakukan control (pengendalian). Pengendalian efektif yang terhadap pada suatu entitas bisnis akan menghasilkan efisiensi penggunaan sumberdaya perusahaan, berjalannya mekanisme pertanggungjawaban, dan menghasilkan informasi yang berguna serta dapat dipercaya. Untuk menciptakan pengendalian yang efektif perusahaan seringkali melibatkan akuntan dan auditor sebagai internal controller.
Pendekatan pengendalian pada accounting information system (AIS) dimaksudkan untuk mengurangi risiko operasi yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu sebagai bagian integral suatu perusahaan, AIS adalah merupakan rerangka dari pengendalian itu sendiri. Tujuan umum dari rerangka pengendalian ini adalah untuk menjamin agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
Pengendalian berlangsung secara simultan di dalam perusahaan, oleh karena itu pengendalian ini sering disebut sebagai internal control structure (ICS). Jika internal control structure (struktur pengendalian intern) berjalan dengan baik maka seluruh operasi, sumber-sumber daya fisik, dan data dapat dimonitor dan diawasi sehingga informasi sebagai output-nya dapat dipercaya.
Akuntan sangat berkepentingan dengan struktur pengendalian intern karena, sebagai pengguna dan pengolah informasi, akuntan harus yakin bahwa informasi yang digunakan adalah benar dan dihasilkan dalam suatu lingkungan struktur pengendalian yang baik dan dapat diperiksa (auditable). Proses pengendalian meliputi monitoring dan regulasi. Lebih lanjut pengendalian mencakup proses :
a)      Pengukuran hasil aktual yang dicapai dengan rencana yang telah dibuat.
b)      Melakukan tindakan korektif
Bentuk level of control processes (tingkatan proses pengendalian) tergantung kepada kompleksitas perusahaan. Semakin kompleks kegiatan dan transaksi perusahaan maka akan semaking kompleks pula levels of control processes-nya, demikian sebaliknya. Terdapat tiga level of control processes yaitu :
a)      First-order feedback control process or system : Yaitu merupakan hasil akhir yang diinginkan dari suatu pengendalian.
b)      Second-order feedback control system : Yaitu penyesuaian yang dibutuhkan karena adanya perubahan - perubahan lingkungan pengendalian.
c)      Third-order feedback control system : Yaitu prediksi atas kondisi yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission (COSO) membuat suatu konsensus tentang struktur pengendalian intern yang meliputi :
a)      Internal control objectives
b)      Financial-oriented view of the internal control structure
c)      Nonfinancial-oriented view of the internal control structure
          Internal Control Objectives
COSO mendefinisikan internal control sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan direktur, manajemen, dan personil lainnya, yang didesain untuk menghasilkan penilaian rasional sebagai upaya untuk mencapai tujuan pengendalian dengan kategori sebagai berikut :
a)      Efektifitas dan efisiensi operasional
b)      Kehandalan laporan keuangan
c)      Kesesuaian dengan hukum dan peraturan - peraturan
Kategori yang langsung berhubungan dengan sistem informasi akuntansi adalah kategori kedua, sedangkan kategori pertama dan ketiga berhubungan secara langsung dengan sistem operasional perusahaan.
Menurut Krismiaji, Sistem nformasi akuntansi adalah ”sebuah sistem yang memproses data dan transaksi guna menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk merencanakan, mengendalikan dan mengoperasikan bisnis”. Kemudian  enurut Willkinson,dkk, yaitu:
“an accounting information systems is a unified structures within an entity such as an business firm that empolys physical resources and other components to transform economic data into accounting information with the purpose of satisfying the information needs of variation of user’s.”
Pengertian diatas menjelaskan bahwa sistem informasi akuntansi adalah kesatuan struktur - struktur dalam suatu entitas, seperti perusahaan bisnis yang mempekerjakan sumber-sumber daya fisik dan komponen-komponen lain untuk mentransformasi data ekonomi menjadi informasi akuntansi, dengan tujuan untuk memuaskan kebutuhan para pemakai informasi yang bervariasi.
          Penjelasan dari unsur-unsur sistem informasi di atas, yaitu:
a)      Orang - orang yang mengoperasikan sistem dan melaksanakan bervagai fungsi.
b) Prosedur - prosedur, baik manual maupun yang terotomatisasi yang dilibatkan dalam mengumpulkan, memproses dan menyimpan data tentang aktivitas - aktivitas organisasi
c)      Data tentang proses - proses bisnis organisasi
d)     Software yang dipakai untuk memproses data organisasi
e)   Infrastuktur teknologi informasi, termasuk komputer, peralatan pendukung dan peralatan untuk komunikasi jaringan.
Dalam memenuhi kebutruhan informasi, baik untuk kebutuhan internal dan eksternal, sistem informasi akuntansi harus di disain sedemikian rupa sehingga memenuhi fungsinya. Demikian pula suatu sistem informasi akuntansi dalam memenuhi fungsinya harus mempunyai tujuan - tujuan yang dapat memeberikan pedoman kepada manajemen dalam melakukan tugasnya sehingga dapat menghasilakn inmformasi-informasi yang berguna, terutama dalam menunjang perencanaan dan pengendalian.
Sistem Informasi Akuntansi berfungsi untuk melakukan pengawasan yang memadai untuk menjamin bahwa informasi yang dihasilkan dapat dipercaya, aktivitas bisnis yang dilaksanakan secara efesien dan sesuai dengan tujuan manajemen, serta sejalan dengan peraturan yang telah digariskan, me;lindungi dan menjaga aktiva organisasi termasuk data yang diberikan perusahaan.
Sistem informasi akuntansi ini dirancang sedemikian rupa oleh suatu perusahaan sehingga dapat memenuhi fungsinya yaitu menghasilkan informasi akuntansi yang tepat waktu, relevan dan dapat dipercaya. Dalam suatu sistem informasi akuntansi terkandung unsur - unsur pengendalian, maka baik buruknya sistem informasi akuntansi sangat mempengaruhi fungsi manajemen dalam melakukan pengendalian internal, karena informasi yang dihasilkannya akan dijadikan salah satu dasar dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan. Mengingat begitu pentingnya penerapan sistem informasi akuntansi dalam suatu perusahaan, maka tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau suatu perusahaan tidak memiliki sistem informasi akuntansi yang memadai. Perusahaan tersebut mungkin tidak dapat memproses transaksinya secara jelas, terinci dan terstruktur. Kemudian perusahaan tersebut mungkin tidak akan memperoleh informasi yang relevan dan dapat dipercaya yang diperlukannya untuk dijadikan dasar dalam mengambil keputusan yang menyangkut aktivitas dan kelangsungan hidup perusahaan.
Sistem informasi akuntansi didalamnya mengandung unsur-unsur pengendalian, maka perusahaan mungkin tidak dapat menjalankan pengendalian-pengendalian yang diterapkannya dengan baik. Karena pengendalian tidak dijalankan dengan baik, tidak menutup kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan kecurangan-kecurangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika penyimpangan dan kecurangan sudah terjadi otomatis aktiva yang dimiliki perusahaan terancam keselamatannya dan aktivitas yang dilakukan menjadi tidak efektif dan efisien.

BAB III
KESIMPULAN
3.1.    Kesimpulan
Pengendalian intern merupakan alat untuk meletakkan kepercayaan auditor mengenai bebasnya laporan keuangan dari kemungkinan kesalahan dan kecurangan. Pemerintah berusaha untuk membuat struktur pengendalian intern dengan baik, melaksanakan, dan mengawasinya agar efektivitas perusahaan bisa tercapai, pengendalian intern yang baik akan menjamin ketelitian data akuntansi yang dihasilkan sehingga data tersebut dapat dipercaya.
Pengendalian intern mempunyai tujuan untuk mendapatkan data tepat dan dapat dipercaya, melindungi harta atau aktiva perusahaan atau lembaga, dan meningkatkan efektivitas dari seluruh anggota perusahaan atau lembaga sehingga perusahaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Suatu informasi akuntansi memberikan informasi kepada orang-orang yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Para pemakai informasi sangat memeprhatikan kualitas informasi yang dilaporkan melalui kertas maupun yang ditayangkan melalui layar komputer (monitor). Suatu organisasi menerapkan kebijakan dan prosedur pengendalian (pengendalian intern) dengan maksud untuk memelihara kualitas informasi dan operasi (rangkaian aktivitas) dalam rangka pencapaian tujuan. Pengendalian intern memiliki lima komponen yang membentuk struktur pengendalian intern. Dari lima komponen tersebut, pengendalian lingkungan menjadi dasar yang memayungi ke-empat pengendalian lainnya.
Apabila suatu sistem pengendalian internal telah dirancang dengan baik, penyimpangan tetap mungkin terjadi sepanjang waktu. Oleh karena itu perlu pengkajian ulang secara teratur untuk memastikan bahwa prosedur - prosedur telah diikuti dengan benar. Pengkajian ulang ini harus dilakukan oleh pemeriksa internal yang tidak terlibat langsung dalam operasi suatu organsasi. Apabila pemeriksa internal  berkedudukan independen,maka dapat melakukan evaluasi mengenai efisiensi operasi secara menyeluruh dan efektif tidaknya sistem pengendalian internal.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi, 2001, Sistem Akuntansi, Yogyakarta : Penerbit Salemba Empat.

Bambang Hartadi. (1997).  Sistem Pengendalian Intern  (dalam hubungannya dengan  manajemen dan audit). Yogyakarta: BPFE

The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission
, COSO(1992 ): COSO – Internal Control Integrated Framework ,The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission .

The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission , COSO
( 2006 ): Executive Summary: Internal Control over Financia l Reporting -Guidance for Smaller Public Companies , The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar